esai

Payudara

Jennifer Love Hewitt, salah satu artis yang disebut berpayudara terindah

Dengan mahar 40 hingga 50 juta rupiah, seorang perempuan dapat mengubah bentuk payudaranya secara permanen. Harga tersebut adalah jumlah mahar yang harus ditebus untuk dapat melakukan operasi payudara di Indonesia. Variasi mahar yang perlu diimpaskan berbeda-beda di setiap tempat tergantung fasilitas yang diperoleh pasien implantasi payudara dan kerumitan prosedur operasi yang akan dilaksanakan.

Pada tahun 2014,  American Society of Plastic Surgeons (ASPS) merilis jumlah operasi payudara yang dilakukan sepanjang tahun yakni 286.000 tindakan.  Dari jumlah tersebut, 82.494 tindakan operasi dilakukan oleh perempuan berusia 20 hingga 29 tahun dan 8.040 tindakan dilakukan oleh perempuan berusia 13 hingga 19 tahun.

Jamaknya keinginan dari perempuan-perempuan muda untuk melakukan operasi payudara sudah berlangsung selama dua dekade. Dalam  periode 1992 hingga 2014, ASPS mencatat kenaikan jumlah tindakan operasi pembesaran payudara mencapai 1461% atau 14 kali lipat di kalangan remaja berusia 13 hingga 19 tahun.

Kecenderungan untuk melakukan mammaplasty (tindakan operasi untuk mengubah bentuk payudara) pada remaja perempuan tidak bergerak sendirian. Dalam kurun waktu yang sama, para perempuan muda ini juga menginginkan perubahan bagian tubuh yang lain. Bauran data ASPS menyebutkan total 224.079 tindakan bedah kosmetik dilakukan oleh remaja berusia 13-19 tahun di sepanjang tahun 2014 yang meliputi aneka perbaikan tubuh seperti perbaikan dagu, pembentukan hidung, pembesaran kelopak mata, serta sedot lemak, .

Keinginan untuk melakukan perbaikan tubuh secara kosmetik tak semerta-merta muncul begitu saja. Pada dekade 80-an, pelekatan diri remaja atas sebuah markah adalah upaya membedakan identitas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Agar seseorang dianggap berbeda, maka penggunaan markah tertentu dilakukan untuk mengidentikkan diri dengan identitas sebuah kelompok pada saat itu.

Seiring berjalannya dekade, pertumbuhan penggunaan markah-markah kian melesat. Perkembangan peradaban visual memegang peranan penting atas melesatnuya penggunaan markah serta pengecapan dan pembentukan keinginan-keinginan para remaja tersebut.  Akses yang makin mudah pada televisi, gajet, papan reklame, hingga bermacam jenis media sosial membuat remaja meleburkan citra diri dengan apa yang mereka lihat pada alat-alat tersebut. Di sisi lain, media sebagai tempat hulu dan hilir informasi semakin aktif melakukan komodifikasi keinginan sehingga selera para pemuda-pemudi bergerak menuju arah tertentu.

Markah diselundupkan melalui media dalam pelbagai bentuk. Majalah-majalah menempatkan model-model sebagai perlambang kecantikan atau ketampanan. Televisi menyiarkan gaya hidup yang diakui sebagai sebuah aktivitas yang mewakili tren atau kepopuleran. Laman-laman media sosial juga terus menerus menawarkan produk-produk yang merepresentasikan kehebatan. Kesemua hal itu bermuara pada persepsi mengenai standar-standar ketampanan, kekerenan, atau kecantikan tertentu.

Dokter Phillip Miller, seorang Ahli Bedah Plastik di New York pernah mengatakan bahwa 30% pasien yang ditangani olehnya adalah para remaja yang menginginkan perbaikan pada hidung dan bibir mereka. Pasien-pasien tersebut adalah para gadis yang datang kepadanya sembari menunjukkan model fashion dalam majalah-majalah seperti Mademoiselle, Cosmo, Elle, dan Allure. Bibir dan hidung para perempuan yang dipajang di sana membuat para gadis itu, menurut Miller, merasakan bahwa mereka tidak mempunyai “apa yang terpampang dalam diri model perempuan itu”.

Foto-foto dalam majalah atau media sosial menghadirkan ketidakpuasan pada para remaja. Padahal rupa model foto dalam majalah kecantikan hanyalah sebuah representasi kecantikan, dan belum tentu mewakili kecantikan itu sendiri. Ketidakpuasan tadi lalu terasosiasi dengan frase ketidaksempurnaan. Remaja yang tidak puas, merasa fisik yang mereka miliki tidak sempurna lantas berupaya memperbaiki ketidaksempurnaan tersebut secara medis.

Perasaan ”tidak sempurna” ini dialami secara masif oleh para remaja untuk kemudian diakui bahwa mereka memang berjarak dengan kesempurnaan. Imbasnya, perbaikan atas ketidaksempurnaan fisik perlahan dimaklumi. Akibat yang terjadi kemudian adalah upaya perbaikan atas ketidaksempurnaan fisik menjadi hal yang cenderung dikejar. Operasi plastik menjelma sebuah kewajaran biasa, lumrah, bahkan menjadi sebuah kebutuhan yang jauh dari bias tabu dan pamali.

Saat hidup bergerak di sekitar lingkungan sosial yang senantiasa menghadirkan tubuh model untuk menjual produk, gaya hidup, dan suasana, tekanan pada remaja untuk membuat mereka merasa menjadi bagian dari peran-peran tersebut semakin besar. Tak heran jumlah remaja yang melakukan tindakan bedah kosmetik makin meningkat. Bagi mereka, keinginan (atau kebutuhan?) untuk menjadi bagian dari “kesempurnaan” adalah entitas jarak yang musti dilampaui.

Padahal, harga yang musti dibayar untuk sekali operasi plastik saja, paling murah, mencapai puluhan juta rupiah. Tetapi demi memenuhi hasrat diri untuk menjelma bagian peran dari manusia yang “sempurna”, nominal itu pun rela ditebus. Presumsi sosiolog Pierre Bourdieu pun terpakai dalam koridor ini. Bourdieu berkata bahwa saat jarak dan kebutuhan meningkat, maka sebagian orang kemudian menandai adanya jarak itu dengan “membuktikan” kelebihannya pada orang-orang yang disetir oleh kebutuhan, bukan keinginannya. Mereka yang melakukan operasi plastik, pada suatu titik, memakai tubuh hasil operasinya sebagai bukti keunggulan mereka dari orang lain yang hanya menjalani hidup sehari-hari dengan segala “ketidaksempurnaannya”.

Namun, apakah mereka benar-benar unggul?

Gagasan pemenuhan hasrat diri untuk menjadi sempurna sudah terjadi sejak masa Victoria. Joan Jacobs Brumberg, dalam bukunya The Body Project: An Intimate History of American Girls, menuliskan perihal gadis-gadis masa Victorian yang diajarkan untuk memiliki tubuh paling menarik. Mereka harus menempuh ritual kelaparan, bekerja keras, menindik, hingga mentato tubuhnya demi mendapatkan tubuh yang sempurna.

Gagasan itu makin meluas dan kini gadis-gadis lebih berorientasi pada tubuh dibandingkan remaja perempuan abad ke-19.  Menurut Brumberg, remaja perempuan abad ke-19 jarang menyebutkan tubuh mereka sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan diri. Sebaliknya, para gadis abad ke-21 menganggap tubuh sebagai sesuatu yang harus diolah, ditolak, disedihkan, lalu dapat dipulihkan dengan belanja.

Komodifikasi tubuh ini menyebabkan kebahagian mereka, para gadis, terukur dari asumsi mereka atas paripurnanya pengolahan atas tubuh mereka. Para gadis ini, menurut Alissa Quart dalam bukunya Branded, melabeli identitas mereka sesuai dengan barang yang mereka konsumsi. Mereka berusaha mati-matian menempati wilayah “sesudah” dalam dongeng ala operasi kosmetik. Celakanya, banyak dari mereka selalu menganggap tubuh mereka masih berada pada posisi “sebelum” meskipun telah mencoba produk-produk dan melakukan operasi kosmetik. Lantas, kebahagiaan idaman itu akhirnya tidak teraih. Keunggulan yang digadang-gadang tidak lebih dari keunggulan yang semu.

Dongeng-dongeng mengenai kesempurnaan tubuh membuat justru membuat kesempurnaan tak lebih dari sebuah proyeksi yang mandul. Ia tidak bisa membuahi tubuh sebagai inangnya dengan kebahagiaan yang dicari. Mereka yang terobsesi pada tubuh akan tenggelam dalam rangkaian usaha untuk memperbaiki tubuh menuju kesempurnaan, di mana tapal kesempurnaan itu sendiri adalah proyeksi yang melulu berubah nun rapuh.

Kesempurnaan payudara, misalnya, tidak terbatas pada satu persepsi saja. Persepsi payudara sempurna berkembang dari insting seksualitas pria yang juga berubah seiring waktu dan tempat. Cinta ala Amerika yang paralel dengan gigantisme, berarti “lebih besar lebih baik”, membuat persepsi payudara yang sempurna adalah payudara yang besar. Namun, sebesar apa? Bagaimana dengan payudara yang keras? Pada dekade 2000-an di Amerika Serikat, para gadis dengan payudara asimetris juga meminta dioperasi agar lebih simetris meskipun payudara yang asimetris merupakan payudara yang normal. Payudara, juga tubuh, menjadi objek perdebatan dinamika selera semata.

Banyaknya persepsi dan interpretasi soal kesempurnaan bisa jadi membuat perdebatan soal kesempurnaan hanya ada di kepala masing-masing orang. Gaya tertentu yang tampak dalam majalah hanya menjadi referensi kesempurnaan. Mode terus berubah, dan implan hanya menjejakkan kepuasan sementara atas tubuh sebelum muncul ketidakpuasan lainnya atas tubuh yang sama.

Pandangan orang atas tubuh mereka membuat perkembangan operasi plastik berubah dari keperluan penderita sipilis dan orang cacat menjadi hal lumrah yang dilakukan oleh bintang teater, film, hingga masyarakat kelas menengah atas dan bawah. Kesempurnaan makin mendekati bentuk makanan siap saji yang dengan mudah diakses di toko-toko terdekat dan orang berlomba-lomba mencari uang untuk membelinya. Para gadis tadi, dengan berlomba-lomba pula, membentangkan jarak dengan kesempurnaan dan tubuh mereka sendiri. Seutas jarak yang kian lama kian lebar.

P.S. : Tulisan ini adalah pembuka dari rangkaian tulisan saya mengenai merek. Merek begitu merasuk dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sekarang. Saya berencana menulis tiga bagian (jika tidak malas) mengenai bagaimana merek berubah dari penyebutan nama produk menjadi bagian dari identitas masyarakat. Tulisan-tulisan ini mayoritas bersumber dari buku “Branded” karya Alissa Quart yang diterjemahkan Penerbit ResistBook menjadi “Belanja sampai Mati”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *