resensi

Gurun Puisi WS Rendra

gambar dari sketsaburam.wordpress.com
gambar dari sketsaburam.wordpress.com

Rendra menerbitkan buku puisi terakhir pada tahun 1997. Pada saat itu, Yayasan Obor milik Mochtar Lubis lah yang menelurkan kumpulan puisi Mencari Bapa dan Perjalanan Bu Aminah sebagai karya terakhir Willybrordus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo. Ya, itulah nama lengkap dari Willy Sulaiman Rendra. Nama terakhir digunakan setelah Rendra masuk Islam pada tahun 1970.

Rendra, dikenal sebagai penyair pamflet. Penyair Pamflet yang berarti karena puisinya bisa berada di mana saja, tertulis apa saja, merekam apa saja. Atau mungkin disebut Penyair Pamflet karena diasosiasikan dengan buku puisinya yang pernah kena bredel y: Pamflet Penyair. Untungnya A. Teeuw berhasil menyelamatkan, sekaligus menerjemahkan, semesta puisi tersebut ke dalam Bahasa Belanda dan diedarkan di sana. Di Indonesia, judul Pamflet Penyair bermetamorfosis menjadi Potret Pembangunan dalam Puisi, yang lolos dari sayatan sensor dan beredar pada tahun 1980.

Laku hidup Rendra dititah lewat buku filsafat dan sastra sejak bangku SMA. Melalui kaca perspektif yang beragam, Rendra kemudian menyuji puisi-puisinya. Puisi Rendra hampir selalu menyergap nuansa yang berada di luar dirinya, namun ada juga perenungan-perenungan tentang Tuhan yang berasal dari dalam dirinya.

Tuhan, adalah sosok misterius yang dipertanyakan oleh Rendra. Pada sajaknya “Kupanggil namamu” (ya, dengan mu kecil karena tidak sedang berbicara tentang Tuhan), Rendra menyebut Tuhan adalah seniman tak terduga yang selalu sebagai sediakala, (dan) hanya memedulikan hal yang besar saja. Nada protes jelas nyaring dikeluarkan dalam sajak ini. Dalam sajak tersebut, Rendra nampak gundah, tak acuh, menceraikan diri. Namun, di sajak lain, “Gumamku, ya Allah”,  Rendra justru mentransendenkan Tuhan ke dalam dirinya. Ia berkata “Angin dan langit dalam diriku, adalah bayangan rahasia kehadiranmu, Ya Allah”. Nampaknya, rentang waktu 12 tahun jeda telah membuat proyeksi Rendra akan Tuhan tampil dalam wujud yang berbeda.

Sajak “Gumamku, Ya Allah” adalah sajak pertama dari kumpulan puisi Rendra yang (mungkin) benar-benar terakhir. Kumpulan puisi ini berjudul Doa untuk Anak Cucu. Doa untuk Anak Cucu berisi puisi-puisi Rendra yang belum pernah dibukukan selama hidupnya. Puisi yang dibukukan adalah puisi yang lahir antara tahun 1983 dan 2009.

Doa untuk Anak Cucu seperti mengais puisi-puisi Rendra yang “menghilang” akibat kesibukan Rendra di Film dan Teater. Walhasil, tidak akan ditemukan tema yang khas dari keseluruhan sajak yang terhampar di sini. Buku Doa untuk Anak Cucu terlihat sekedar menampilkan rupa khas sajak-sajak Rendra yang makin lugas dan tanpa basa-basi.

Saya tertarik pada puisi “Tuhan, Aku Cinta pada-Mu” yang ditulis di bulan-bulan terakhir Rendra. Di senjanya, Rendra seperti benar-benar leleh dari kristal kehidupan yang sudah dipahatnya. “Aku ingin kembali ke jalan alam// Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah” tulisnya di puisi yang bertarikh 31 Juli 2009 tersebut. Rendra seakan mafhum kepada penyerahan diri setelah bertahun-tahun bergulat dengan penyakit, lalu kembali kepada Tuhan, kepada agamanya yang dia sebut sebagai kemah para pengembara.

Pengembaraan mengenal jejak dan jarak. Kata-kata yang dikembarakan Rendra sendiri merupa berbagai macam jejak dan jarak nuansa. Pada awal-awal kepenulisannya, Rendra cenderung menulis secara khayali dan penuh metafora. Namun semakin lama, sajaknya berubah sehingga terdengar lebih lugas. Dalam doa untuk anak cucu, sajak “Gumamku, Ya Allah” sangat berbeda dengan saja “Doa” meskipun menyuarakan hal yang sama. “Gumamku, ya Alloh” masih menampilkan kata-kata magis seperti “Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu” terhadap apa yang Rendra maksud sebagai “musafir-musafir yang senantiasa mengembara. Umat Manusia tak ada yang juara”. Rendra menceritakan kerinduan kepada Tuhan yang terbersit dari jiwa manusia yang mengembara dalam hidupnya dan terombang-ambing. Hal itu kemudian terkait dengan bayangan rahasia kehadirian Allah di awal sajak ini. Rendra memotret keterpasrahan dalam ombang-ambing kehidupan. Dalam sajak doa, Rendra lebih lugas memotret keterpasrahan itu dengan lugas: “Allah menatap hati. Manusia menatap raga. Hamba bersujud kepada-Mu, ya Allah! Karena hidupku, karena matiku.”

Sudah pasti terjadi juga dismilaritas akan bahasa dan tema dalam sajak-sajak di buku ini. Sajak paling tua dalam buku ini adalah “Hak Oposisi” yang bertarikh 10 Oktober 1971, sedangkan yang paling muda adalah “Tuhan, Aku Cinta pada-Mu” yang lahir pada 31 Juli 2009. Ruang usia yang berjeda hampir 40 tahun mengakibatkan dismilaritas yang kentara.

Rendra konsisten menggeledah situasi sosial di sekitarnya untuk membuka simpul-simpul kemuraman pemerintahan dan kemanusiaan. Sajak keras mengenai kerusuhan yang mengiringi reformasi Mei 1998 misalnya. Ia menuliskan kegundahannya akan kekerasan yang terjadi pada saat itu. Rendra memulai sajaknya dengan “Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja” yang mengindikasikan keterkaitan reformasi tersebut dengan periode gelap “raja” yaitu presiden. Sajak itu diakhiri dengan pedih juga: “Air mata mengalir dari sajakku ini”.

Detak kemuraman itu juga tercermin pada sajak-sajaknya yang lain seperti “Kesaksian Akhir Abad dengan larik: “Kejahatan kasatmata tertawa tanpa pengadilan. Kekuasaan kekerasan berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan”, “Perempuan yang Tergusur”, ‘Maskumambang”, dan “Politisi itu Adalah”.

Rendra, melalui sajak-sajaknya, seperti memendam kegundahan yang tidak bertepi mengenai lini-lini zaman yang terus bergerak. Pergerakan zaman yang seakan meninggalkan ketidakadilan sebagai pekerjaan rumah yang berakhir sebagai tanda tanya. Rendra mengkhawatirkan pekerjaan rumah ini akhirnya masih dalam kondisi yang menganga, lalu diwariskan kepada anak cucu. Atas dasar ini pula penyebab “Untuk Anak Cucu” dinukil dan diletakkan sebagai judul buku.

Doa untuk anak cucu, adalah akhir dari gurun puisi WS Rendra. Sudah 17 tahun kita absen membaca dan menziarahi kata-kata yang diwariskan Rendra. Pada tenggang waktu tersebut, dahaga akan puisi Rendra menjadi gurun yang menanti hujan. Akhirnya, hujan itu datang dalam bentuk doa untuk anak cucu. Hujan yang turun ini cukup menggembirakan, menyejukkan, walau pada akhirnya kita akan merasakan gurun puisi Rendra yang mungkin tidak akan berkesudahan. Kecuali jika ada puisi yang memang belum tampil dan bersuara serta menjelma sebagai hujan kembali.

Rendra berperang dengan kata-katanya dan sudah tunai perangnya melawan, mengutip Agus Noor, zaman yang penuh dengan godaan kesementaraan. Tapi, suatu hal yang saya percaya bahwa kata-kata memiliki sukma yang tak terpahami dan bisa menjadi pelita bagi “anak cucu” untuk melawan godaan kesementaraan di zamannya sendiri. Ya, kata-kata bisa menjadi energi dalam menjawab teka-teki nasib masing-masing yang aca0 diperjuangkan. Seperti kata Rendra jua: perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *