upakyana

#KartiniDJP Retno Widi Astuti, Penggemar Ular, Menyita tanpa Gentar

Gugurnya seorang rekan dengan profesi serupa jelas menerbitkan gundah yang tidak hanya mencekat diriya, tetapi juga keluarganya. Apalagi, ia adalah seorang perempuan, yang sering ditempatkan sebagai gender kedua. Imajinasi atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul sempat membuat keluarganya resah sehingga memintanya supaya lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugas.

Tapi toh Retno Widi Astuti terus melaju. Ia terus melaksanakan pekerjaannya sebagai Juru Sita Pajak: profesi yang hadir paling depan untuk melucuti kekayaan wajib pajak bandel dengan utang pajak belum dibayar. Profesi yang juga rentan terhadap ancaman wajib pajak karena, di titik ini, wajah pajak yang hadir bukan hanya persuasi, melainkan juga sebentuk tindakan represi.

Maka dalam melakukan pekerjaannya, Retno dituntut untuk cerdik. Tidak cuma unjuk kekuatan fisik, ia harus memiliki kelihaian lain untuk menghadapi penghindaran dari para wajib pajak yang bandel. Ia, misalnya, pernah kucing-kucingan dengan wajib pajak yang akan disandera sebelum akhirnya berhasil membawa sang wajib pajak ke balik jeruji besi.

Seakan tantangannya belum cukup, ia pun harus menghadapi pesimisme dari beberapa pihak yang menyepelekan dirinya. Ada yang kurang percaya bahwa seorang perempuan sanggup melakukan berbagai tindakan penagihan aktif demi pencapaian target penerimaan pajak. Laiknya seni bela diri, persepsi seperti itu justru diputarbalikkan Retno dan dijadikannya tenaga untuk mengoptimalkan kemampuan dan pengetahuannya.

Retno sudah mendiangi profesi juru sita selama lima tahun. Bermula dari rasa penasaran terhadap kegiatan juru sita, Retno mengikuti diklat yang mengubah peta perjalanan kariernya. Fase-fase pun telah ia lewati. Dari fase awal kala dirinya belum terlalu paham teknis penagihan aktif hingga saat di mana semua proses penagihan telah ia cicipi, termasuk mengajukan penyanderaan.

Belakangan, munculnya beberapa profil juru sita pajak perempuan membuatnya merasakan kebersamaan berlebih karena ternyata saudara yang senasib-sepenanggungan berjumlah banyak. Ia menyebut Ade Dragon sebagai salah satu panutannya. Juru Sita yang sangat eksis itu menginspirasi dirinya dengan imaji bahwa sebenarnya sosok perempuan bisa mengampu tugas seberat apapun, termasuk pekerjaan yang kental terasosiasi dengan gender lelaki, seperti Juru Sita Pajak.

Batas-batas konstruksi gender pun seperti ia terobos ketika memilih memelihara ular sebagai hobinya. Dua puluh piton ia rawat dan besarkan dengan penuh perhatian. Tak pelak, Retno makin terlihat garang.

Walaupun demikian, memelihara ular bukanlah hobi atau sarana menakut-nakuti semata. Baginya, memelihara ular adalah proses yang membantu dirinya mampu mengenali karakter wajib pajak. Karena, sebenarnya, ular juga memiliki karakter unik, sama seperti manusia. Lewat interaksi dengan ular, Retno belajar bagaimana mengenali karakter wajib pajak juga memilih pendekatan yang harus ia lakukan terhadap wajib pajak agar mereka mampu melunasi utang pajaknya.

Saat ini, Retno berdarma bakti di KPP Pratama Semarang Candisari. Dua tahun terakhir ia menumpahkan karyanya di sana, sekuat mungkin berupaya membuat hukum pajak tetap tegak sembari berharap akan ada perlindungan khusus bagi petugas pajak terutama juru sita agar kejadian yang menimpa Parada dan Soza tidak akan terjadi kembali.

Keseluruhan upaya itu dilakukan Retno demi pekerjaannya dengan satu tujuan pasti: memenuhi target penerimaan negara. Dengan tercapainya target penerimaan negara, ia merasa sudah bisa berbagi kebajikan bagi sesama.

Melakukan pekerjaan dengan niat untuk berbagi kebajikan itu, juga berakar dari semangat Kartini yang tertulis dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, 31 Januari 1901; “Barangsiapa mengabdi kebajikan, hidupnya tiadalah sia-sia- dan barangsiapa mencari Kebajikan, dia menemukan kebahagiaan sejati: kedamaian jiwa.” (*MCS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *