resensi

Melukis Kembali Gelap Terang Kartini

Film Kartini besutan Hanung Bramantyo

Hal yang harus disadari dalam upaya mengangkat biografi Kartini ke dalam media cerita adalah narasi Kartini yang begitu besar. Kartini, sepanjang hidupnya, menggugat banyak hal sehingga banyak juga kacamata yang bisa digunakan untuk menerjemahkan kisah hidup Kartini.

Itu pun belum memperhitungkan pelbagai bentuk kanonisasi terhadap narasi Kartini yang telah berlangsung hampir seumur kematian Kartini itu sendiri. Berpendarnya narasi Kartini yang beraneka warna itu membentang sedari masa kolonial hingga pascareformasi.

Pada masa kolonial, narasi tentang Kartini dipahat sebegitu apiknya lewat penerbitan surat-suratnya oleh JH Abendanon pada 1911 di Belanda dengan judul “Door Duisternis Tot Licht”. Lewat buku itu, cerita Kartini menari-nari sebagai bukti keberhasilan politik etis Belanda. Respons dari buku itu bernada positif, ihwal Belanda yang sukses menelurkan pribadi pintar dan tercerahkan, seiring dengan kepentingan mereka untuk dikenal bisa memajukan rakyat terjajah. Pendeknya, oleh Belanda, Kartini beku dalam narasi kepintaran perempuan jajahan.

Pada masa orde lama, Kartini diolah-disempurnakan oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) dengan menggarisbawahi sikap-sikap Kartini yang dikaitkan dengan narasi anti-feodalisme dan anti-kolonialisme. Dua organisasi yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) ini membawa bandul narasi Kartini bergeser ke arah kiri.

Oleh mereka, Kartini disejajarkan dengan Clara Zetkin, perempuan komunis berwarganegara Jerman yang menginisiasi Hari Perempuan Internasional. Ide-ide revolusioner Kartini disuarkan sebagai bukti bahwa Kartini pun, memotong istilah Pram, revolusioner sejak dalam pikiran. Buah dari upaya ini adalah Kepres RI No 108 Tahun 1964 yang dirilis pada 2 Mei 1964. Isinya: menetapkan Kartini menjadi pahlawan nasional.

Sedangkan, pada masa orde baru, narasi Kartini diubah dengan mengurungnya kembali ke dalam tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat seharusnya perempuan berkarya: dapur, sumur, dan kasur. Jika pun ada tambahan selain tiga tempat tadi, posisi perempuan tidak boleh lebih dari “ibu” dan “istri”. Mereka hanya dijatah tugas domestik seperti mencerdaskan anak dan mendampingi suami. Pada masa ini juga, karakterisasi ibu cum istri itu mulai dibungkus dalam pengenaan konde dan kebaya sebagai bagian dari perayaan hari Kartini.

Dengan banyaknya rupa, agaknya sulit bagi Hanung Bramantyo untuk membawa semuanya ke dalam satu film. Oleh karena itu, ia harus memilah aneka narasi tadi untuk menghasilkan satu kisah tentang tokoh Kartini.

Kartini bersama Sosrokartono

Mengambil fase Kartini di usia 14-22 tahun, agaknya Hanung Bramantyo menukil riset-riset yang pernah dibuat Pram dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja” sebagai konstruksi utama cerita.

Kartini (Dian Sastrowardoyo) lahir sebagai anak dari Ngasirah (Ngasirah muda diperankan Nova Eliza, Ngasirah tua diperankan Christine Hakim) yang merupakan rakyat biasa. Sang Ayah, RM Ario Sosroningrat, adalah Asisten Wedana onder distrik Mayong yang kemudian naik pangkat menjadi Bupati Jepara. Selain Ngasirah, RM Ario Sosroningrat menikahi beberapa perempuan lain. Salah satunya adalah Raden Ayu Moeriam (Djenar Mahesa Ayu).

Beranjak dewasa, Kartini mulai tidak nyaman dengan keterbatasan yang ia temui. Ia masuk pingitan. Teman-teman dan pengetahuan dirampas darinya. Dalam derita itulah, Sosrokartono (Reza Rahadian), kakak kandung Kartini, menghadiahkannya kunci lemari yang berisi ratusan buku. Dari sana, Kartini membaca dan mulai memutus pasung pikirannya.

Rukmini, Kartini, dan Kardinah

Kartini lalu mengajak dua adik tirinya, Kardinah (Ayushita) beserta Rukmini (Acha Septriasa), untuk bersama-sama melawan kurungan yang diwariskan oleh adatnya. Bertiga, mereka bahu-membahu membuka tabir kebebasan yang selama ini tertutup rapat. Meskipun itu juga berarti perseteruan dengan Raden Ayu Moeriam beserta saudara-saudaranya, seperti Slamet Busono (Denny Sumargo).

Hal yang kemudian terjadi adalah interaksi antara Kartini dan lingkungan sekelilingnya. Lewat interaksi itu, Kartini mendedahkan pemikiran dan kesukaannya dengan berani. Ia mengirim surat kepada Estella Zeehandelaar (Rebecca Reijman), berbincang dengan Keluarga Ovink Soer, meminta sang ayah merestui keinginannya mendidik, juga mengembangkan kesenian ukir Jepara.

Tentu saja, ada yang tak senang dengan lelaku Kartini, termasuk Raden Ayu Moeriam dan Slamet Busono. Mereka berkehendak kalau adat harus terus dipegang. Melalui kegigihan, juga kelaraannya, Kartini terus melawan semua itu sekuat mungkin.

Selama 119 menit, Hanung berupaya keras agar Kartini yang dilahirkan dari rahim film ini adalah Kartini yang “bebas nilai”. Ia berusaha menanggalkan narasi-narasi yang ada tadi dengan fokus menyajikan Kartini sebagai subjek. Di sini, Kartini yang ditemui bukanlah Kartini a la kolonial, orde lama, atau orde baru, melainkan Kartini sebagai seorang perempuan yang ingin lepas dari keterkungkungannya.

Keluarga Besar Kartini

Menggunakan pendekatan ini, Hanung meletakkan Kartini sebagai pihak yang tersubordinasi tapi mampu melawan para opresorya dengan cerdik. Kartini melawan tradisi dengan melakukan dekonstruksi. Ia membandingkan kebudayaannya dengan kebudayaan Eropa. Ia pun mempergunakan relasinya dengan para pembesar Eropa untuk membuat orang lain mendukung cita-citanya.

Akan tetapi, Hanung tetap tidak meninggalkan sisi Kartini yang lain. Kegalauan tentang perkara menikah dan hubungan dengan Ngasirah mempunyai kedudukan penting di keseluruhan cerita. Lewat fragmen-fragmen menyayat itu, Hanung memberikan “cacat” pada Kartini. Kartini merasa bimbang juga ingin konformis saja daripada memenuhi keinginan menggebunya. Sesuatu yang meletakkan dirinya sebagai perempuan domestik, tidak hanya figur pahlawan nasional.

Upaya melukis kembali narasi Kartini oleh Hanung mungkin belum sepenuhnya sesuai dengan epos perjuangan Kartini. Tapi, upaya seperti ini baik adanya. Lewat film ini, karakterisasi Kartini tidak terlalu gegap gempita meskipun ia punya keinginan nun mega pada zamannya. Lewat penggambaran Hanung, kita bisa memahami kalau Kartini adalah perempuan yang selama-lamanya, seperti dalam suratnya ke Stella, tercekat dan berkata: aku hendak merebut kemerdekaanku.

 

Judul: Kartini
Tahun Produksi: 2017
Durasi: 119 menit
Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Acha Septriasa, Christine Hakim, Deddy Oetomo,
Penulis: Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo
Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films
Negara: Indonesia

 

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *