perjalanan,  upakyana

Dari Sepucuk Pagi di Sungai Kuin

DSCF8708

Menyesuaikan diri akibat perpindahan bagian waktu mungkin akan selalu menjadi soal yang tak bisa saya atasi. Bergeser satu jam saja, pola tidur saya sudah rusak. Apalagi jika bergesernya jauh lebih banyak. Perlu beberapa hari untuk membuat metabolisme tubuh kembali wajar sehingga mulut bisa mengkremus serta perut juga bisa murus-murus dengan khidmat serta lancar.

Makanya, saat diharuskan bangun pada pukul 04.00 WITA, saya langsung mumet. Bukan apa-apa. Dengan raga yang masih belum rosa, membuka mata adalah perkara yang lebih susah daripada memberikan ceramah tata surya kepada pemeluk aliran bumi datar. Belum lagi membincang soal ranjang yang tampak lebih nikmat ditiduri, dengan atau tanpa adanya kekasih.

Tetapi, dua kali panggilan telepon dari Fadjeri, teman di Banjarmasin itu, berhasil membuat saya bangkit. “Ayo, Mas Med. Siap-siap ke pasar terapung,” suara dari seberang sana tertata dan tidak tergesa. Menandakan kalau ia sudah biasa terjaga penuh sebelum kawanan ayam jantan mulai mengeluarkan suara.

Saya beringsut meninggalkan kasur yang empuk dan mimpi yang masih acak-acakan di atasnya. Lantas, saya mengambil kamera yang matanya kelak akan sangat berguna menggantikan mata saya yang telah dan masih compang-camping dijotosi kantuk.

“Saya tunggu di lobi ya, Mas Med,” pesan singkat yang saya nantikan akhirnya datang juga. Lumayan, sebentar lagi saya bisa lanjut tidur dengan alas yang berbeda.

Mobil merah itu melaju membelah Banjarmasin. Raungnya mendesaki ruang-ruang yang dijeda antara bangunan-bangunan tua yang lampunya masih gelap dan nyenyak. Di atas sana, warna hitam masih menjuntai dan awan sama sekali belum menjajaki tempatnya. Saya, yang masih belum sembuh benar dari deraan kantuk, meluruskan kaki dan berusaha mengatupkan mata kembali. Mudah-mudahan perjalanan bakal lama, batin saya.

Tetapi, seperti umumnya cita-cita tanpa kerja, keinginan tadi hanya menggantung tanpa pernah terwujud. Baru sepuluh menit berlalu, tidur ayam saya sudah berakhir di tangan deru azan.

“Mas, salat dulu,” ucap Fadjeri kepada saya. Sepertinya dia punya hobi salat tepat waktu. Hobi yang entah mengapa belum bisa menular ke saya. “Habis itu naik kapal. Kita akan sampai di pasar terapung setelah beberapa puluh menit berkapal,” tambahnya. Saya mengatur napas. Sepertinya memang tak ada alasan bagi saya untuk tidak berlari menuju kemenangan seperti arti dari bait-bait azan tadi.

subuh yang baru lahir
subuh yang baru lahir
on a pier
on a pier

Fajar masih dalam kelopak langit yang menguncup kala saya melompat ke buritan kapal. Angin terjebak dalam lindapnya gelap dan menurunkan sekujur gigilnya ke badan yang masih diliputi sisa air wudu. Saya memeluk diri sendiri, berharap kongsi gigil-gelap itu tak lama-lama singgah dan segera mulai berlari. Asu. Pagi Banjarmasin yang sedang buta memang tidak terlalu menggairahkan untuk dilalui.

“Saat hari kerja, pasar terapung yang cukup ramai itu yang berada di tepi Muara Kuin dan Sungai Kuin, Mas. Ada satu lagi di Alalak, tapi ramainya cuma saat akhir pekan,” Fadjeri menjelaskan kepada saya yang masih bertarung melawan gigil.

rahim masjid
rahim masjid
on boating (1)
on boating (1)
on boating (2)
on boating (2)

Pertarungan itu lalu berjalan tidak seimbang. Saya yang awalnya sudah mulai menyerah, tiba-tiba saja dibantu hangatnya mentari yang perlahan mulai merangkak naik. Sinarnya menembus rumah-rumah di kiri-kanan sungai dan memeluk tubuh saya yang sedari tadi diajak menari oleh arusnya. Gigil yang sedari tadi hinggap benar-benar diusir olehnya. Pagi itu, dari kejauhan yang sunyi, saya tersenyum melihat subuh yang baru saja lahir.

Namun, selain subuh, rahim Sungai Kuin juga melahirkan banyak hal. Setelah beberapa puluh menit berkapal, saya mengintip azan yang pelan-pelan terbenam dan digantikan deru mesin kapal yang bising. Mulanya, satu kapal melewati masjid yang membayang di belakang saya. Lalu dua kapal. Tiga. Kemudian kapal-kapal lain pun turut menyemut. Mereka memelan dan mengapung berdekatan. Orang-orang keluar dari badan kapal dan berdiri di geladak serta buritannya, saling berbincang serta menukar uang dengan bungkusan-bungkusan entah apa.

pasar terapung sungai kuin
pasar terapung sungai kuin
hidup di antara kayu (1)
hidup di antara kayu (1)

“Ini yang namanya Pasar Terapung, Mas Med,” Fadjeri menjawab tanpa sekalipun ditanya. “Perahu yang mereka naiki namanya Jukung. Di atasnya, mereka menjual macam-macam, dari gorengan, buah-buahan, hingga sayur-mayur. Bahkan ada kapal yang khusus menjual Soto Banjar,” tambahnya sambil menunjuk satu kapal berlambung besar warna biru.

Saya menggumam takjub dalam hati. Jukung-jukung yang dinaiki satu atau dua orang melintas dan berhenti agak ke tepi, sedangkan kapal lain yang lebih besar leluasa hilir mudik menghalau arus sungai. Telinga saya pun menangkap keriuhan tawar-menawar yang dekat namun terasa jauh karena percakapan-percakapan yang saling menelan satu sama lain. Subuh belum tuntas, batin saya, tapi rahimnya terus memuntahkan keniscayaan-keniscayaan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

hidup di antara kayu (2)
hidup di antara kayu (2)
membeli gorengan di pasar terapung
membeli gorengan di pasar terapung

“Mas Med mau gorengan, nggak?Ada kopi juga nih,” suara Fadjeri ikut tersapu angin padahal ia berada di kapal yang sama dengan saya. Ia harus beberapa kali mengulangi tawarannya sebelum telinga butut saya paham betul apa yang ia katakan. “Boleh, Mas, kopinya yang pahit ya,” teriak Saya. Fadjeri kemudian menjulurkan tongkat untuk mengambil beberapa gorengan dari jukung penuh gorengan yang sudah berada di sebelah kapal kami.

Saya mulai menyalakan lamun sembari melahap sepotong pisang goreng dan beberapa sesap kopi. Konon, di awal abad ke-15, kawasan Pasar Terapung yang menjadi bagian dari pelabuhan sungai Bandarmasih ini jauh lebih ramai. Bagaimana tidak? Ia tumbuh dari pertemuan beberapa anak sungai yang saban harinya dilalui banyak penduduk. Dengan postur Kalimantan yang dibelah oleh urat sungai, pertemuan anak sungai pasti diiringi dengan pertemuan pelbagai kepentingan orang-orang yang datang dengan jukungnya. Di sanalah, pertemuan itu berubah menjadi pertukaran informasi dan aktivitas ekonomi yang terus mengakar hingga enam abad sesudahnya.

Tetapi, bukan berarti kalau saat ini pasar terapung menjadi teramat sepi. Perekonomian yang berputar di atas Sungai Kuin tetaplah menggeliat. Belasan penjaja tetap setia bangun lebih awal dari waktu berkokoknya ayam jantan untuk melajukan perahu dan menjajakan dagangannya saban hari.

Hanya saja, urat sungai yang merupakan pembuluh utama dari tubuh Pulau Borneo kini tidak terlalu banyak dilintasi jukung. Pembukaan jalan darat menciptakan pasar-pasar baru yang menggantikan peran sungai sebagai tempat pertemuan kebutuhan dan penawaran. Imbasnya, sungai mulai sepi dan daratan menjadi ramai.

menjaja kapal di atas kapal
Fadjeri dan Bapak yang menjaja kapal di atas kapal

“Mau beli kapalnya, Pak?” raut muka sedikit memelas tiba-tiba melongok dari samping kapal saya. Seorang bapak yang usianya tampak menuju senja menjajakan mainan kapal di atas jukungnya. “Satunya dua puluh lima ribu, Pak.”

Fadjeri kemudian mendatangi sang Bapak dan memilih beberapa mainan. Dia juga menawari saya untuk ikut membeli dagangan sang Bapak.”Buat oleh-oleh lumayan nih, Mas,” ucap Fadjeri.

Saya menjawab dengan senyum sambil menerawang jauh. Pandangan saya ke raut muka sang bapak perlahan mengeruh. Saya mengingat beberapa wajah tua yang juga turut menjaja di kapal-kapal lainnya. Mereka menanti sambil sesekali menawarkan. Kadang ada yang membeli, kadang ada juga yang tidak menghiraukan.

“Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudera, selat, dan teluk,” ucap seorang bapak yang lain. Saya masih mengingat bagaimana ia lamat-lamat menata kalimatnya. Ia belum tua, dan kini ia juga punya pengaruh yang kuat di mana-mana. “Samudera, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita,” lanjut Bapak itu. Wajahnya optimis khas pemimpin yang baru saja terpilih. Kata-katanya itu diucapkannya tiga tahun lalu di dalam gedung yang konon berisikan wakil-wakil terbaik rakyat.

Kini, tiga tahun setelahnya, saya ingin sekali mengirimkan wajah-wajah tua yang mengayun di atas jukung kepadanya sambil menanyakan kegelisahan yang entah mengapa belum terjawab: “Kapan kita bisa kembali memeluk laut, samudera, selat, dan teluk, serta sungai, sepenuh-penuhnya?”

hidup di antara kayu (3)
hidup di antara kayu (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *